Debut Mengesankan Eusebio di Piala Dunia
Eusebio menampilkan permainan top dalam debut Piala Dunianya melawan Hongaria di Inggris 1966. Saksikan cuplikan dan baca kutipan serta fakta menarik tentang penampilan epiknya.
Portugal 3-1 Hongaria
Inggris 1966 | Grup 3 Old Trafford, Manchester Penonton: 29.886
Menjelang pertandingan
Debut Portugal di Piala Dunia FIFA Inggris 1966 memiliki makna yang sangat besar bagi sepak bola negara tersebut. Turnamen itu menjadi penampilan pertama mereka di ajang tersebut, sekaligus menandai periode kebangkitan pesat yang sebagian besar didorong oleh kesuksesan Benfica di Piala Champions Eropa UEFA pada awal dekade tersebut.
Pada usia 24 tahun, Eusebio telah muncul sebagai figur utama dalam sepak bola Portugal dan datang sebagai pusat perhatian alami dari sebuah generasi yang berambisi menerjemahkan kesuksesan klub ke panggung global.
Sementara itu, Hungaria tetap menjadi lawan yang tangguh. Meski tidak lagi berada di puncak kejayaan mereka pada era 1950-an, mereka berhasil mencapai semifinal Piala Negara-Negara Eropa 1964 dan diperkuat oleh talenta menyerang seperti Florian Albert dan Ferenc Bene.
Jalannya pertandingan
Portugal mengawali pertandingan dengan sempurna, unggul pada menit pertama ketika Jose Augusto menyambut sepak pojok dengan sundulan keras. Hungaria merespons pada babak kedua, menyamakan kedudukan pada menit ke-60 setelah terjadi benturan antara Albert dengan lini pertahanan dan penjaga gawang Portugal, yang memungkinkan Bene menceploskan bola ke gawang kosong.
Namun demikian, Portugal tetap tenang dan merespons secara meyakinkan, kembali melalui bola udara. Hanya tujuh menit kemudian, Jose Augusto mengembalikan keunggulan lewat sundulan keduanya, sebelum Jose Torres memastikan kemenangan dengan gol ketiga—juga melalui sundulan—pada menit terakhir.
Meski demikian, cerita utama dalam pertandingan ini menjadi milik Eusebio. Sepanjang laga, pergerakan eksplosifnya, baik menusuk di belakang lini pertahanan maupun di antara lini, berulang kali merusak organisasi pertahanan Hungaria dan menciptakan ancaman konstan. Dengan akselerasi tajam dan perubahan arah yang cepat, ia nyaris mustahil dihentikan. Bahkan setelah mengalami benturan yang membuatnya harus mengenakan perban di kepala, Eusebio tetap mendominasi, melewati para pemain bertahan di lapangan Old Trafford dengan mudah.
Meskipun tidak mencatatkan namanya di papan skor, justru dialah yang menjadi sorotan utama keesokan harinya, menegaskan besarnya pengaruh yang ia berikan sekaligus memberi gambaran tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kutipan
“Melawan Hongaria saya tidak mencetak gol, tetapi saya merasa Portugal memiliki tim yang mampu menghadapi siapa pun. Itu adalah awal dari kisah kami di Piala Dunia. Saat itulah kami menyadari bahwa kami bisa bermimpi. Hungaria kuat, tetapi kami menunjukkan bahwa Portugal sudah siap.” Eusebio
“Itu adalah momen terhebat dalam hidup saya. Saya tidak akan pernah melupakan 1966. Saat itulah Portugal memperkenalkan diri kepada dunia sepak bola.” Eusebio
Video: Eusebio | Pencetak Gol Terbanyak | Piala Dunia FIFA 1966 Inggris
“Eusebio selalu menarik dua atau tiga pemain bertahan. Itu membuat segalanya lebih mudah bagi saya. Melawan Hongaria, saya memanfaatkan ruang yang ia ciptakan.” Jose Augusto
“Ia adalah pemain terbaik di dunia pada Piala Dunia tersebut. Eusebio mengangkat kami.” Antonio Simoes
Trivia
Eusebio menutup satu-satunya penampilannya di Piala Dunia FIFA dengan torehan sembilan gol dari enam pertandingan, menempatkannya di antara pencetak gol terbanyak dalam sejarah turnamen. Hanya Just Fontaine (13 gol pada 1958), Sandor Kocsis (11 gol pada 1954), dan Gerd Muller (10 gol pada 1970) yang mencetak lebih banyak gol dalam satu edisi.
Dengan rata-rata 1,5 gol per pertandingan, rasio gol Eusebio melampaui para legenda seperti Ronaldo, Muller, dan Grzegorz Lato.
Antonio Simoes kemudian mengungkapkan bahwa ia mendapat nomor punggung 13, yang tidak biasa baginya karena biasanya mengenakan nomor 11, yang saat itu diberikan kepada Eusebio. Ia sempat mendekati rekan setimnya tersebut dan mengusulkan untuk bertukar nomor, dengan bercanda bahwa jika Eusebio mengenakan nomor 13, ia akan menjadi pencetak gol terbanyak turnamen sekaligus “mematahkan kutukan” nomor tersebut. Eusebio kemudian tampil luar biasa sepanjang turnamen—meskipun apakah ia benar-benar mengubah makna nomor 13 di Portugal masih menjadi perdebatan.
